Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN


Ringkasan Eksekutif

Ringkasan Eksekutif

 

Kementerian Keuangan Republik Indonesia telah dan terus mendukung pertumbuhan keuangan dan ekonomi nasional yang sehat selama beberapa dekade. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan PDB Indonesia stabil di angka 6% per tahun. Pendapatan pajak telah dipertahankan laju pertumbuhannya yang sejalan dengan PDB, konsisten di angka 11-12% dari PDB, sementara pendapatan bea cukai telah meningkat dengan pesat sebesar 17% per tahun. Walaupun terdapat banyak faktor lain yang berkontribusi atas kesuksesan ini, pengelolaan keuangan nasional yang efektif oleh Kemenkeu adalah faktor kunci dalam menyokong pembangunan ekonomi.

  • Hingga tahun 2013, Kemenkeu telah mencapai perubahan transformasional dalam sejumlah dimensi penting, seperti:
  • Pendapatan pajak telah terjaga lajunya dengan pertumbuhan PDB rata-rata sebesar 6% per tahun sejak tahun 2005, meskipun dengan adanya keterbatasan sumber daya dan tantangan operasional;
  • Upaya Pemerintah Bebas Korupsi yang diterapkan di area-area vital, misalnya dalam bidang transparansi fiskal dan Bea Cukai;
  • Budaya akuntabilitas telah dibangun dengan diterapkannya Balanced Scorecard;
  • Sumber daya manusia berkualitas tinggi, mis. 67% pegawai memiliki gelar S1 dan di atasnya.

Indonesia kini adalah anggota negara-negara G20. Karena itulah, aspirasi Kementerian Keuangan juga telah meningkat. Kementerian Keuangan harus menjadi ‘penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia yang inklusif di abad ke-21’. Dengan visi baru ini, Kemenkeu ingin menunjukkan komitmen untuk menjalankan peran vitalnya dalam menentukan pembangunan bangsa – visi ini merupakan refleksi dari aspirasi tinggi Kemenkeu yang ingin dicapai melalui transformasi ini.

Kemenkeu juga telah memperbaharui misinya untuk lebih mencerminkan kegiatan serta mandat inti yang lebih sesuai. Misi baru untuk Kemenkeu adalah:

  • Mencapai tingkat kepatuhan pajak, bea, dan cukai yang tinggi dengan keunggulan layanan serta penegakan hukum yang ketat;
  • Menerapkan kebijakan fiskal yang pruden;
  • Mengelola neraca pusat dengan risiko minimal;
  • Memastikan dana penerimaan didistribusikan secara efisien dan efektif;
  • Menarik dan mengembangkan SDM terbaik dengan nilai jual yang kompetitif bagi para pegawainya.

Jajaran Pimpinan di Lingkungan Kementerian Keuangan, telah menyatakan komitmen kuat untuk meneruskan pemantapan dan pengembangan upaya transformasi yang sudah diraih sebelumnya. Langkah pertama yang telah diambil dalam gelombang transformasi baru tersebut adalah studi transformasi kelembagaan komprehensif yang dilaksanakan dari bulan April hingga Desember 2013. Selama studi tersebut, tim berinteraksi dengan sekurangnya 24 ribu stakeholder internal dan 80 orang stakeholder eksternal, melakukan 20 kunjungan lapangan, dan menganalisis ratusan dokumen internal dan eksternal untuk memahami kondisi Kementerian Keuangan pada saat ini.

Fase Diagnosis penyusunan cetak biru menunjukkan sejumlah pergeseran prioritas yang harus dijalankan Kementerian Keuangan agar dapat mencapai transformasi pada skala besar.

Fase Desain dalam penyusunan cetak biru melibatkan lebih dari 60 sesi kerja dan "mini-labs" untuk memecahkan masalah. Di dalam sesi ini, setidaknya 300 orang pegawai Kemenkeu dan 30 orang pakar bidang studi telah dilibatkan. Cetak biru ini terdiri atas 3 horison atau periode waktu roadmap strategis untuk mewujudkan Kementerian Keuangan kelas dunia, yaitu:

  • Membangun momentum untuk reformasi (2013-2014);
  • Membangun keunggulan operasional dan layanan dalam skala besar (2015-2019);
  • Melembagakan terobosan dalam jangka panjang (2019-2025).

Sebanyak 87 inisiatif strategis telah diidentifikasi dengan fokus utama untuk menjalankan transformasi melalui lima unit yang menjadi titik tumpu transformasi Kementerian Keuangan, yaitu Pajak, Bea Cukai, Anggaran, Perbendaharaan, serta Sekretariat Jenderal.

Implementasi dari cetak biru tersebut diharapkan dapat menjadi warisan bagi Indonesia. Contoh dari milestone utama yang akan menandai perjalanan dalam mewujudkan Kementerian Keuangan kelas dunia adalah sebagai berikut:

  • Pelayanan kepada wajib pajak akan menjadi lebih baik dan lebih efisien, mis. akan ada 25 juta pengisi e-filing pajak pada tahun 2019;
  • Kemudahan dalam menjalankan usaha di Indonesia akan meningkat, mis. dwelling time untuk customs clearance impor berkurang sebesar 40%;
  • Sistem anggaran yang jauh lebih ramping untuk Indonesia, mis. 800 line items versus 192 ribu line items yang harus disetujui DPR pada saat ini;
  • Manajemen kas yang jauh lebih efisien, mis. 100% pembayaran untuk sektor publik/pemerintah dilakukan dengan saluran-saluran elektronik;
  • Cetak biru arsitektur TI terpadu  untuk seluruh unit di kementerian;
  • Memperkuat peran strategis organisasi sentral (SetJen) dan memberdayakan organisasi unit, sehingga memampukan pencapaian hasil transformasi secara luas di seluruh Kemenkeu.

Dalam fase implementasi, terdapat dua perangkap yang harus diperhatikan Kemenkeu dalam transisinya dari “sangkar menuju hutan belantara”:

  • Penundaan atas implementasi quick wins (beach-heads), mis. keputusan utama tidak diambil oleh pihak yang tepat, birokrasi menghambat laju pembuatan keputusan;
  • Kegagalan untuk menjaga semangat dan momentum kepemilikan inisiatif, mis. pemimpin inisiatif lebih fokus ke pekerjaan sehari-hari, rapat Steering Committee tidak dijalankan, tidak ada komunikasi hasil capaian, dan tidak ada perubahan dalam cara berkomunikasi.

Karena itulah, terdapat tiga hal yang harus dipastikan demi mempertahankan transformasi mulai hari ini:

  • Tetapkan struktur yang tepat dan bentuk tata kelola transformasi dengan segera: Pastikan tidak ada penurunan semangat menjadi "business as usual". Central Transformation Office di tingkat kementerian dan Project Management Office di tingkat unit Eselon I harus segera dibentuk.
  • Bentuk tim dengan anggota terbaik dan pastikan adanya kesinambungan: Para pimpinan sesi rapat kerja beserta pimpinan dan anggota lab berada dalam posisi terbaik untuk menggerakkan inisiatif. Mereka telah bekerja secara intensif dalam proses penjabaran inisiatif, sebaiknya mereka juga yang perlu melanjutkan estafet eksekusi. Kementerian Keuangan harus memberikan investasi dalam transformasi dengan menugaskan individu-individu terbaik – hanya dengan inilah, dampak yang diinginkan dapat diraih.
  • Mengelola kinerja secara proaktif: Intensifikasi manajemen kinerja internal  (mis. kajian reguler, update mingguan) untuk memecahkan isu dengan sponsor inisiatif dan para Dirjen.

Setelah struktur terbentuk, sebuah ritme transformasi juga harus ditetapkan untuk memastikan pencapaian milestones yang diatur dalam initiative charters. Ritme ini sangat penting untuk disepakati sejak awal disertai komitmen untuk meluangkan waktu demi melaksanakan tinjauan komite. Manual implementasi yang lebih terperinci untuk setiap inisiatif telah disusun untuk menjadi pedoman implementasi.

Tim Change Management adalah bagian integral dari CTO/PMO. Bagi tim ini, pendekatan yang sistematis atas perencanaan keterlibatan serta komunikasi para stakeholder adalah hal penting yang perlu dilakukan. Selanjutnya Tim Change Management mendukung para pimpinan senior dalam melibatkan stakeholder secara strategis.

Tentunya halangan akan selalu ada. Cetak biru yang telah dihasilkan, meskipun sudah memberikan arahan yang benar, masih memerlukan semangat juang dan keberanian untuk diterapkan serta penyempurnaan yang tepat di masa depan. Para pimpinan Kementerian Keuangan pada akhirnya adalah kunci bagi keberhasilan transformasi ini. Demi mencapai tujuan tersebut, para pemimpin transformasi di lembaga ini untuk memikirkan pergeseran pola pikir yang harus dilakukan demi memastikan kesuksesan program ini secara pribadi. Peran dan suri tauladan yang diejawantahkan ke dalam perilaku baru yang diperlukan bagi transformasi akan memastikan bahwa Cetak Biru Transformasi Kelembagaan tidak hanya menjadi karya intelektual belaka. Pejabat di semua tingkatan Kemenkeu perlu meluangkan waktu untuk merenungkan dan mendorong perubahan perilaku yang pada akhirnya dapat mentransformasi organisasi ini.